<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Blog papahnya niesha</title>
	<atom:link href="http://durachman.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://durachman.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 06:07:08 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menelusuri Peradaban Zaman Batu di Cipari</title>
		<link>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/menelusuri-peradaban-zaman-batu-di-cipari/</link>
		<comments>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/menelusuri-peradaban-zaman-batu-di-cipari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 06:07:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cirebon dan Sekitarnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/menelusuri-peradaban-zaman-batu-di-cipari/</guid>
		<description><![CDATA[
(Artikel Diambil dari Republika, Minggu, 14 April 2002)
Kuningan, bagi para arkeolog merupakan sebuah daerah yang banyak menyimpan misteri masa lalu, terutama zaman megalitikum. Memang masih banyak benda peninggalan masa lalu yang dapat ditemukan di Kabupaten Kuningan. Bahkan ekskavasi secara berkala pernah dilakukan oleh Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Jakarta pada tahun 1974.
Beragam temuan banyak didapati di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b></b><br />
(<b>Artikel Diambil dari Republika, Minggu, 14 April 2002)</p>
<p></b>Kuningan, bagi para arkeolog merupakan sebuah daerah yang banyak menyimpan misteri masa lalu, terutama zaman megalitikum. Memang masih banyak benda peninggalan masa lalu yang dapat ditemukan di Kabupaten Kuningan. Bahkan ekskavasi secara berkala pernah dilakukan oleh Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Jakarta pada tahun 1974.</p>
<p>Beragam temuan banyak didapati di hampir seluruh wilayah kabupaten yang terletak di kaki Gunung Ciremai ini. Mulai dari menhir, batu dakon, meja batu, hingga peti kubur batu tersebar. Tercatat, 14 buah peti kubur batu terdapat di Desa Cibuntu, Kecamatan Mandirancan, Palatagan (Pancalang), Rajadanu (Jalaksana), Raga Wacana (Kramat Mulya), Panawar Beas (Cigugur), dan di Desa Cigadung serta Pager Barang Citangtu Kecamatan Kuningan Kota. <span id="more-138"></span></p>
<p>Taman Purbakala Cipari berada di lingkungan Cipari, Kelurahan Cigugur. Terletak pada sebuah perbukitan dan berada di bagian barat Kuningan. Jarak tempuh dari pusat kota sekitar 3,5 kilometer dengan kondisi jalan sudah beraspal. Untuk menikmati suasana pedesaan, Anda dapat menggunakan sarana transportasi berupa delman. Hanya dengan membayar Rp 15 ribu, kusir delman akan mengantarkan perjalanan wisata Anda ke Taman Purbakala Cipari, Kolam Ikan Cigugur, dan Desa Adat Cigugur yang terkenal dengan tradisi Seren Taun -nya.</p>
<p>Perjalanan di Kabupaten Kuningan, diawali di situs purbakala Cipari. Di situs purbakala ini tersimpan beraneka ragam peninggalan manusia masa lalu terutama yang berkembang pada masa megalitikum. Yang menjadi daya tarik obyek wisata purbakala berupa peti kubur batu yang masih terawat dan tertata rapi serta insitu. Sehingga pengunjung obyek tersebut akan dapat menyimak tentang pola kehidupan manusia masa lalu.</p>
<p>Peti kubur batu yang berada di situs purbakala Cipari sebenarnya memiliki kesamaan fungsi dengan peti-peti kubur lainnya yang banyak ditemukan di wilayah Indonesia. Di Kepulauan Samosir, masyarakat setempat menyebutnya dengan sebutan Tundrum Baho, di Bondowoso Jawa Timur disebut dengan Pandusa, di Gianyar Bali dikenal dengan istilah Sarkofagus, dan di Sulawesi Utara disebut juga dengan nama Waruga. Yang membedakan, peti kubur batu di Cipari terbuat dari lempengan-lempengan batu yang dibentuk menyerupai peti. Batu-batu berupa papan tersebut banyak sekali ditemukan di sekitar lokasi taman wisata purbakala.</p>
<p>Peti kubur batu yang ditemukan di Kabupaten Kuningan rata-rata menghadap ke arah timur laut-barat daya. Pola ini sebenarnya merupakan penggambaran atas konsep-konsep kekuatan alam seperti matahari dan bulan, yang merupakan pedoman budaya manusia yang hidup pada masa megalitikum, di mana mereka selalu berpegang pada pola terbit dan terbenamnya matahari. Di dalam peti kubur batu itu sendiri tidak ditemukan kerangka manusia. Meski demikian, temuan berupa bekal kubur banyak ditemukan di situs yang pernah dijadikan area penelitian oleh Puslit Arkenas secara berkesinambungan sejak tahun 1972 di bawah pimpinan Teguh Asmar.</p>
<p>Selain kubur peti batu, di sekitar lokasi wisata purbakala juga terdapat bangunan punden berundak yang letaknya lebih tinggi dari bangunan megalitik lainnya. Menurut kepercayaan masa lalu, bangunan tersebut berfungsi sebagai sarana untuk penghormatian dan persembahan bagi roh para nenek moyang. Bangunan lain yang tak kalah uniknya adalah berupa menhir, berupa batu yang berdiri tegak yang berfungsi sebagai sarana untuk memperingati seseorang yang masih hidup ataupun kerabat-kerabat yang telah lama meninggal dunia. Menhir juga merupakan salah satu sarana yang berfungsi sebagai tahta kedatangan roh nenek moyang.<br />
Di kawasan Museum Purbakala Cipari tersimpan benda-benda temuan hasil ekskavasi tim LPPN dan Puslitarkenas. Benda-benda seperti kapak batu persegi, gelang batu, kapak batu, gelang perunggu, lumpang batu, batu obsidian, hematite, batu bahan, bulatan tanah, kendil, pendil, jambaran, dan buli-buli tersimpan rapi di dalam museum yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof DR Syarief Thayeb pada 23 Februari 1978. Tidak jauh dari Taman Purbakala Cipari, kira-kira berjarak satu kilo meter ke arah barat, terdapat sebuah desa dengan komunitas masyarakat yang masih menganut tradisi karuhun. Setiap tanggal 22 Rayagung, mereka selalu merayakan tradisi Seren Taun. Yaitu sebuah upacara masyarakat agraris Sunda terhadap limpahan hasil bumi yang diberikan Sang Pencipta kepada umatnya.</p>
<p>&#8221;Sampurasun Ka Luluhur, tamada ka Sadayana, cunduk waktu nu rahayu nitih wanci numustari, syukuran Ka nu maha Agung.&#8221; Begitulah lantunan bait penuh makna yang diucapkan oleh pemimpin upacara menambah sakral upacara yang digelar setiap tahun sekali oleh masyarakat di Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan. Bahkan, iringan nada-nada gamelan renteng yang melantunkan tembang sanjungan berupa lagu papalayon dan babarit kepada Karuhun atau nenek moyang menambah sakral ruangan paseban Tri Panca Tunggal yang berdiri pada tahun 1840 itu. Tradisi Seren Taun yang setiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat agraris di Cigugur sebenarnya makna hampir sama dengan upacara-upacara yang dilakukan oleh para petani di seluruh Indonesia, bahkan petani di negara-negara agraris masih melakukan kebiasaan atau upacara Thank&#8217;s Giving kepada Tuhan atas limpahan hasil pertanian.</p>
<p>Mungkin, kita pernah mendengar kebiasan petani di Jawa Tengah dengan tradisi Mapag Sri dan upacara-upacara sejenis lengkap dengan beragam uborampenya. Semua itu merupakan rasa penghormatan yang tak terhingga dari para petani atas limpahan rejeki yang telah diberikan oleh Tuhan Yang maha Esa sehingga hasil bumi-utamanya padi- dapat dinikmati oleh masyarakat. Melalui Seren Taun inilah masyarakat petani di kawasan Cigugur dan sekitarnya menyampaikan rasa syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencerminan kesadaran pribadi atas suatu kenyataan yang mereka terima, yakni hidup dengan kehidupan, dengan kehalusan budi, cinta kasih, tatakrama dalam menerima sentuhan cipta, rasa, dan karsa yang diberikan sang Pencipta. Upacara Seren Taun bagi petani di Cigugur selalu diselenggarakan pada setiap bulan Rayagung.</p>
<p>Pangeran Djatikusumah, seorang pinisepuh masyarakat Desa Cigugur, kepada Republika mengungkapkan, prosesi Seren Taun diawali dengan upacara ngajayak atau menjemput padi. Kebiasaan menjemput padi dilaksanakan empat hari sebelum upacara puncak berlangsung. Ngajayak yang digelar pada tanggal 18 Rayagung memiliki makna menyambut cinta kasih atas kemurahan Tuhan. Rentetan prosesi tidak berhenti di situ. Pada tanggal 22 Rayagung, digelar upacara puncak penumbukan padi. Dalam perhitungan tahun Saka, bulan Rayagung merupakan bulan kedua belas atau penghujung tahun. Demikian dengan penetapan perayaan tradisi Seren Taun juga bermakna kehidupan manusia dari tahun ke tahun tidak lain karena keagungan Tuhan pada umatnya. Masyarakat Sunda lebih mengedepankan religiusitas ahklak, kesejahteraan masyarakat, dan menunujukkan bahwa nenek moyang telah memiliki peradaban moralitas.</p>
<p>Prosesi upacara puncak yang berlangsung sakral, diikuti oleh muda-mudi, serta warga masyarakat Desa Cigugur dengan penuh sukacita. Dengan formasi empat penjuru mata angin, upacara ini diawali dengan barisan lulugu, yakni dua orang gadis muda belia yang mengusung padi, buah-buahan, dan umbi-umbian hasil bumi masyarakat yang dikawal oleh seorang pemuda dengan membawa payung janur bersusun tiga. Pada barisan kedua, sebanyak sebelas gadis belia membawa padi yang masing-masing dipayungi juga oleh para pemuda.</p>
<p>Ini disusul dengan rombongan ibu-ibu yang membawa ikatan padi yang disunggi di atas kepala atau menurut masyarakat setempat disebut nyuhun. Rentetan barisan diakhiri dengan rombongan bapak-bapak paruh baya yang memikul padi dengan rengkong sambil digoyang-goyang. Menurut Pangeran Jatikusumah, semuanya itu mengandung makna yang sangat hakiki bagi masyarakat Cigugur.</p>
<p>Banyaknya hasil bumi yang dibawa masyarakat Cigugur ke arena upacara Seren Taun menandakan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan, meski masyarakat di Cigugur dan sekitarnya beragama Islam, Kristen, Budha, Hindu, dan aliran kepercayaan. Masih di kawasan Cipari-Cigugur, wisatawan dapat menikmati sejuknya hawa pegunungan Ciremai sembari bercengkrama dengan ribuan ikan kancra atau sering disebut ikan dewa yang oleh masyarakat setempat sangat disakralkan.</p>
<p>Lokasi kolam keramat Cigugur, terletak kira-kira 200 meter dari desa adat Cigugur atau empat kilometer dari pusat kota Kuningan. Menurut masyarakat setempat, komunitas ikan langka tersebut hanya terdapat di daerah Kuningan. Itu pula sebabnya pemerintah setempat mengangkat ikan kancra sebagai fauna yang dilindungi dan tanaman gadung sebagai flora yang dilindungi dengan perda. Ikan jenis kancra bodas ini selain terdapat di kolam keramat Cigugur, juga hidup secara alami di kawasan obyek wisata Darma Loka, Kolam Keramat Cibulan, Kolam Linggarjati, dan Kolam Cipaniis. n dedy setiono musashi</p>
<p><b>Legenda Ikan Kancra di Kaki Gunung Ciremai </b></p>
<p>Kolam Keramat Cigugur terletak sekitar tiga kilometer dari ibukota Kabupaten Kuningan. Secara geografis, &#8221;balong&#8221; itu masuk wilayah Kelurahan Cigugur. Menurut cerita yang berkembang dan dipercaya oleh masyarakat setempat, sebelum lahir nama Cigugur, tempat itu acap disebut dengan nama Padara. Istilah ini diambil dari nama seorang tokoh masyarakat, yaitu Ki Gede Padara, yang memiliki pengaruh besar di desa itu.<br />
Konon Ki Gede Padara lahir sebelum Kerajaan Cirebon berdiri. Menurut perkiraan, tokoh yang menjadi cikal bakal masyarakat Cigugur ini lahir pada abad ke-12 atau ke-13. Pada masa itu, beberapa tokoh yang sezaman dengannya sudah mulai bermunculan, di antaranya Pangeran Pucuk Umun dari Kerajaan Talaga, Pangeran Galuh Cakraningrat dari Kerajaan Galuh, dan Aria Kamuning yang memimpin Kerajaan Kuningan. Berdasarkan garis keturunan, keempat tokoh tersebut masih memiliki hubungan persaudaraan. Namun dalam hal pemerintahan, kepercayaan, dan ajaran yang dianutnya, mereka memiliki perbedaan. Pangeran Pucuk Umun, Pangeran Galuh Cakraningrat, dan Aria Kamuning menganut paham aliran ajaran agama Hindu. Sedangkan Ki Gede Padara tidak menganut salah satu ajaran agama.</p>
<p>Pada abad ke-14 di Cirebon lahir sebuah perguruan yang beraliran dan mengembangkan ajaran agama Islam. Tokoh yang mendirikan perguruan tersebut ialah Syech Nurdjati. Selain Syech Nurdjati, Sunan Gunungjati pun memiliki peran yang besar dalam pengembangan perguruan Islam di tanah Caruban itu. Sebagai kuwu pertama di Dusun Cigugur diangkatlah Ki Gede Alang-Alang. Hingga wafatnya, beliau dimakamkan di Kompleks Masjid Agung. Di usia tuanyan, Ki Gede Padara punya keinginan untuk segera meninggalkan kehidupan fana. Namun, ia sendiri sangat berharap proses kematiannya seperti layaknya manusia pada umumnya. Berita tersebut terdengar oleh Aria Kamuning, yang kemudian menghadap kepada Syech Syarif Hidayatullah. Atas laporan itu, Syech Syarif Hidayatullah pun langsung melakukan pertemuan dengan Padara. Syech Syarif Hidayatullah merasa kagum dengan ilmu kadigjayan yang dimiliki oleh Ki Gede Padara.</p>
<p>Dalam pertemuan itu Padara pun kembali mengutarakan keinginannya agar proses kematiannya seperti layaknya manusia biasa. Syech Syarif Hidayatullah meminta agar Ki Gede Padara untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagai syaratnya. Syarat yang langsung dipenuhi Ki Gede Padara. Namun, baru satu kalimat yang terucap, Ki Gede Padara sudah sirna. Setelah Ki Gede Padara menghilang, Syech Sarif Hidayatullah bermaksud mengambil air wudhlu. Namun, di sekitar lokasi tersebut sulit ditemukan sepercik air pun. Dengan meminta bantuan Allah SWT, dia pun menghadirkan guntur dan halilintar disertai hujan yang langsung membasahi bumi. Dari peristiwa inilah kemudian sebuah kolam tercipta.</p>
<p>Namun, masyarakat setempat tidak tahu menahu kapan persisnya kolam tersebut dibangun. Satu hal pasti, kolam tersebut dianggap keramat. Apalagi setelah kolam &#8221;ditanami&#8221; ikan kancra bodas. Pengeramatan tersebut juga dilakukan oleh masyarakat terhadap ikan sejenis yang hidup di kolam Darmaloka, Cibulan, Linggarjati, dan Pasawahan. Maksud pengkeramatan terhadap ikan langka tersebut tidak lain bertujuan untuk menjaga dan melestarikannya dari kepunahan akibat ulah manusia.</p>
<p>Ada hal aneh yang sampai kini masih terjadi atas ikan-ikan itu: Jumlahnya dari tahun ke tahun tak pernah bertambah atau pun berkurang. Seolah ikan-ikan tersebut tidak pernah mati atau menurunkan generasi dan keturunan. Komunitas ikan kancra bodas ini tak dapat ditemui selain di kolam-kolam keramat yang ada di Kabupaten Kuningan. Keanehan lainnya terlihat dari polah tingkah laku mereka yang sangat akrab dengan manusia. Bila kolam dibersihkan, masyarakat sekitar sering melihat bahwa ikan-ikan yang ada di kolam tersebut menghilang. Mereka percaya bahwa ikan-ikan tersebut berpindah lokasi ke kolam-kolam keramat lainnya yang ada di Kuningan. Wallahhualam. ded</p>
<p>(deddy musashi)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/durachman.wordpress.com/138/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/durachman.wordpress.com/138/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/durachman.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/durachman.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/durachman.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/durachman.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/durachman.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/durachman.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/durachman.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/durachman.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/durachman.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/durachman.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=durachman.wordpress.com&blog=2465682&post=138&subd=durachman&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/menelusuri-peradaban-zaman-batu-di-cipari/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/durahman-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">webmaster</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Situs Gunung Nagara</title>
		<link>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/situs-gunung-nagara/</link>
		<comments>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/situs-gunung-nagara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 06:05:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cirebon dan Sekitarnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/situs-gunung-nagara/</guid>
		<description><![CDATA[Date: Fri, 23 Sep 2005 02:10:18 +0100 (BST)
From: &#8220;:: Yayan Mulyana ::&#8221; &#60;jajaka_subang@yxxxx&#62;
Subject: Menelusuri Situs Gunung Nagara
Menelusuri Situs Gunung Nagara
OLEH RONI NUGRAHA
DALAM peradaban tatar Sunda, Kabupaten Garut pada
umumnya, khususnya wilayah Garut selatan kurang begitu
diperhatikan. Terlebih jika dikaitkan dengan kerajaan
atau dengan isu penyebaran ajaran Islam. Sebab,
dipungkiri ataupun tidak, di wilayah Kabupaten Garut
tidak pernah berdiri kerajaan besar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Date: Fri, 23 Sep 2005 02:10:18 +0100 (BST)<br />
From: &#8220;:: Yayan Mulyana ::&#8221; &lt;<a href="http://groups.yahoo.com/group/niesha_hanifah/post?postID=CRyVgEg1jUJJ-dHXn1mNoQIg948E3Ojjibux62ul0x6uBjGP9GAiW3RczpS0MgjicPZVNiMEQGPRJf862WZoeXcXTM4">jajaka_subang@yxxxx</a>&gt;<br />
Subject: Menelusuri Situs Gunung Nagara</p>
<p>Menelusuri Situs Gunung Nagara<br />
OLEH RONI NUGRAHA</p>
<p>DALAM peradaban tatar Sunda, Kabupaten Garut pada<br />
umumnya, khususnya wilayah Garut selatan kurang begitu<br />
diperhatikan. Terlebih jika dikaitkan dengan kerajaan<br />
atau dengan isu penyebaran ajaran Islam. Sebab,<br />
dipungkiri ataupun tidak, di wilayah Kabupaten Garut<br />
tidak pernah berdiri kerajaan besar sekaliber Galuh<br />
Pakuan, Sumedang Larang, Pajajaran, Kasepuhan dan<br />
Banten. Akan tetapi, realitas tersebut tidak menutup<br />
kemungkinan kalau di wilayah Garut pernah berdiri<br />
kerajaan kecil yang dijadikan basis penyebaran agama<br />
Islam di wilayah Garut Selatan yang terjadi sekira<br />
awal abad ke 13.<span id="more-137"></span></p>
<p>Situs Gunung Nagara</p>
<p>BATU Nisan, salah satu peninggalan yang masih<br />
tersisa.*DOK. PRIBADI</p>
<p>Berbicara tentang gunung, pikiran kita tertuju pada<br />
sebuah gunung cukup tinggi. Sebenarnya, Gunung Nagara<br />
bukanlah gunung dalam artian para pecinta alam. Ia<br />
lebih merupakan bukit yang memiliki keragaman flora<br />
cukup unik. Di tempat tersebut masih banyak terdapat<br />
pohon burahol, menyan, kananga, bintanu, kigaru,<br />
binong serta masih banyak jenis tumbuhan lainnya yang<br />
mungkin secara ilmiah belum dikenal, dan belum<br />
diketahui manfaatnya bagi kehidupan manusia.</p>
<p>Kekayaan fauna juga dimiliki hutan Gunung Nagara.<br />
Kalau kebetulan, kita akan menemukan burung rangkong<br />
(Buceros rhinoceros) yang sedang asyik berduaan<br />
bersama pasangannya di atas pohon yang cukup tinggi.<br />
Tubuhnya yang cukup besar diperindah dengan mahkota<br />
oranye di atas kepalanya. Bagi yang pertama kali<br />
menemukan burung ini, mungkin akan merasa aneh, sebab<br />
ketika burung tersebut akan terbang, biasanya memberi<br />
aba-aba dengan suara &#8220;gak&#8221; yang keras mirip suara<br />
monyet. Lantas, ketika sudah tinggal landas, kepakan<br />
sayapnya mengeluarkan suara yang dramatis. Selain<br />
burung Rangkong, masih terdapat hewan langka lainnya<br />
semisal kambing hutan, landak, kucing hutan, macan<br />
kumbang, walik, surili, dan beragam jenis kupu-kupu.</p>
<p>Secara geografis, ia terletak di wilayah Desa<br />
Depok-Cisompet-Garut. Menuju daerah tersebut relatif<br />
gampang, dari terminal Garut kita hanya tinggal naik<br />
elf jurusan Pamengpeuk-Garut dengan membayar ongkos RP<br />
10.000,00, atau jika berangkat dari Bandung, kita<br />
tinggal naik bus tiga perempat jurusan<br />
Bandung-Pameungpeuk dengan membayar ongkos Rp<br />
15.000,00. Kita minta diturunkan di Kampung Pagelaran.<br />
Dari kampung tersebut, bukit gunung Nagara sudah<br />
tampak begitu jelas, namun sekilas tidak ada jalan<br />
menuju bukit tersebut, yang terlihat hanyalah tebing<br />
cadas yang menurut pemikiran normal tidak mungkin<br />
untuk didaki tanpa peralatan panjat.</p>
<p>Dari Kampung Pagelaran, kita tinggal berjalan kaki<br />
menuju Kampung Depok dengan jarak sekira satu<br />
kilometer. Menurut hikayat, nama Depok dikaitkan<br />
dengan padepokan. Artinya, perkampungan tersebut pada<br />
awalnya merupakan padepokan tempat peristirahatan para<br />
gegeden. Sebenarnya, menurut Ki Ecep (sesepuh<br />
kampung), pada era enam puluhan, kampung Depok masih<br />
merupakan perkampungan dengan tradisi yang sama dengan<br />
Baduy. Akan tetapi, setelah kampung tersebut<br />
dibumihanguskan gerombolan DI/TII, terjadi perubahan<br />
cukup signifikan. Sekarang tidak akan lagi terlihat<br />
rumah-rumah panggung berjajar menghadap kiblat.</p>
<p>Perjalanan Pagelaran-Depok akan melintasi sungai<br />
Cikaso. Bagi mereka yang suka akan keindahan alam,<br />
alangkah baiknya terlebih dahulu mengunjungi Batu Opak<br />
yang berada kurang lebih setengah kilometer ke arah<br />
hulu. Di tempat tersebut kita akan menyaksikan<br />
fenomena geologis, yakni batu yang berjajar secara<br />
sinergis dari arah bukit menuju sungai dengan bentuk<br />
mirip seperti opak. Penduduk sekitar menghubungkan<br />
fenomena geologis tersebut dengan legenda Sangkuriang.<br />
Yaitu, ketika Sangkuriang akan menikah, Embah<br />
Rajadilewa (penguasa daerah selatan) mau membantu<br />
nyambungan. Akan tetapi, baru saja mereka sampai di<br />
Leuwi Tamiang, dari arah timur terlihat fajar,<br />
sehingga mereka menyimpan barang bawaannya di tempat<br />
tersebut, hingga ia berubah menjadi batu.</p>
<p>Bagi mereka yang baru mengunjungi tempat ini, di<br />
kampung Depok inilah bisa menemui Ki Sanang (kuncen)<br />
untuk minta diantar. Dari Depok, kita melanjutkan<br />
perjalanan menuju Cidadap dengan jarak kurang lebih<br />
setengah kilometer, perjalanan ini melewati pesawahan<br />
yang tidak terlalu luas. Di Cidadap inilah terdapat<br />
mata air yang dikeramatkan. Secara nalar, air dapat<br />
menyegarkan badan. Perjalanan baru akan mendapat<br />
tantangan manakala kita mulai merayap mendaki jalanan<br />
setapak yang cukup terjal (Cidadap-Gunung Nagara).<br />
Terkadang kita harus melewati jalanan yang<br />
kemiringannya mencapai 75 derajat. Dari Cidadap, kita<br />
tidak akan menjumpai jalanan yang datar, kanan kiri<br />
jalan masih terdapat banyak pohon besar, sehingga<br />
walaupun kelelahan kita bisa beristirahat cukup<br />
santai. Perjalanan ini jika ditempuh dengan santai<br />
paling-paling memakan waktu sekira setengah jam.</p>
<p>Sesampainya di puncak Gunung Nagara, secara langsung<br />
kita telah sampai di kompleks pemakaman. Tempat itu<br />
dikenal dengan pusaran ka hiji (kompleks pertama) yang<br />
di tempat ini terdapat dua puluh enam kuburan.<br />
Kuburan-kuburan tersebut relatif besar-besar. Setiap<br />
kuburan dihiasi batu &#8220;sakoja&#8221; dan batu nisan. Dinamai<br />
sakoja, karena batu tersebut berasal dari sungai<br />
Cikaso diambil dengan menggunakan koja (kantong).<br />
Kalau kita perhatikan secara seksama, komplek<br />
pekuburan tersebut tersusun secara rapi membentuk<br />
sebuah struktur organigram. Lima belas meter ke arah<br />
utara, terdapat kuburan yang dikenal dengan pusaran<br />
kadua. Di tempat ini hanya terdapat dua kuburan.<br />
Sekira dua kilometer ke arah utara, terdapat kuburan<br />
yang dikenal dengan pusaran katilu yang hanya terdiri<br />
dari dua kuburan. Konon kabarnya, kuburan ini<br />
merupakan kuburan Embah Ageung Nagara dan patihnya.</p>
<p>Menurut Kepala Desa Depok, Abdul Rasyid, tiga pusaran<br />
tersebut melambangkan Alquran yang terdiri dari 30<br />
juz. Pusaran pertama yang terdiri dari 26 kuburan<br />
melambangkan bagian Mufassal (surat-surat) pendek,<br />
pusaran kedua melambangkan al-mi&#8217;un dan pusaran ketiga<br />
melambangkan sab&#8217;ul matsani. Oleh sebab itu, tidak<br />
diperbolehkan menambah kuburan. Lebih lanjut, ia<br />
mengatakan kalau pada pusaran pertama itu terdiri dari<br />
para pengikut/pengawal yang salah satu di antaranya<br />
perempuan, pusaran kedua merupakan kuburan panglima<br />
dan pusaran ketiga merupakan kuburan raja dan patih.<br />
Sebenarnya, jika kita mau melanjutkan perjalanan ke<br />
arah utara, kita akan menemukan sebuah kuburan yang<br />
terpisah, konon kabarnya kuburan tersebut merupakan<br />
kuburan seorang berbangsa Arab.</p>
<p>Lebih jauh, menurut Abdul Rasyid, sebenarnya situs<br />
Gunung Nagara terdiri atas beberapa peninggalan dalam<br />
bentuk barang. Namun sayang, naskah aslinya terbakar<br />
manakala gorombolan (DI/TII) menyerang Kampung Depok,<br />
sedangkan beberapa naskah lainnya yang tersisa dan<br />
barang-barang peninggalan sudah menjadi milik orang<br />
Tasik. Barang-barang yang masih ada, terpencar di<br />
perseorangan.</p>
<p>Bagi para peziarah yang terbiasa melakukan semedi,<br />
disyaratkan baginya untuk melakukan ritual mandi di<br />
Sumur Tujuh. Sumur tersebut berada sekira setengah<br />
kilometer ke arah lembah. Sumur itu berada tepat di<br />
dekat sungai kecil. Sebenarnya, sumur itu merupakan<br />
kubangan-kubangan kecil akibat dari resapan air.</p>
<p>Legenda Kian Santang</p>
<p>Menurut sebagian besar masyarakat Depok, Situs Gunung<br />
Nagara erat kaitannya dengan penyebaran Islam di<br />
wilayah Garut Selatan yang disebarkan atas jasa Prabu<br />
Kian Santang. Malahan diklaim kalau sesungguhnya<br />
daerah Leuweung Sancang merupakan tempat<br />
peristirahatan terakhir Prabu Siliwangi (raja<br />
pajajaran yang terkenal), sehingga begitu melegenda<br />
kalau di leuweung tersebut terdapat harimau<br />
jadi-jadian, bekas pasukan Prabu Siliwangi. Sementara<br />
itu, walaupun terdapat daerah yang diklaim sebagai<br />
tempat peristirahatan terakhir Prabu Siliwangi,<br />
penduduk Garut selatan meyakini bahwa kuburan asli<br />
Prabu Kian Santang itu berada di kompleks pemakaman<br />
Gunung Nagara.</p>
<p>Menurut mereka, keberadaan kuburan lainnya hanya<br />
merupakan tempat persinggahan Prabu Kian Santang.<br />
Misalnya saja pemakaman Godog di daerah<br />
Suci-Karangpawitan-Garut. Mereka menyatakan kalau<br />
sesungguhnya di tempat tersebut Prabu Kian Santang<br />
hanya tinggal berkontemplasi merenungi kekeliruannya<br />
dalam melakukan sunat terhadap orang yang masuk Islam.<br />
Oleh sebab itu, tempat tersebut dinamakan &#8220;Godog&#8221; yang<br />
mengandung arti tempat penyucian jiwa atau dalam<br />
istilah pewayangan &#8220;Kawah Candradimuka&#8221;, dan karenanya<br />
pula tempat ketika ia turun dari daerah tersebut<br />
dinamakan &#8220;Suci&#8221;, yang berarti setelah melakukan<br />
kontemplasi ia kembali pada kesucian yang kemudian<br />
melanjutkan perjalanan menuju Garut Selatan.</p>
<p>Dari data-data sepintas tersebut, rasanya tidak<br />
terlalu berlebihan kalau sesungguhnya Gunung Nagara<br />
menyimpan rahasia yang harus segera dieksploitasi,<br />
baik bagi kepentingan pendidikan ataupun bagi<br />
kepentingan pariwisata. (Penulis adalah anggota KPA<br />
Jirim)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/durachman.wordpress.com/137/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/durachman.wordpress.com/137/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/durachman.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/durachman.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/durachman.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/durachman.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/durachman.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/durachman.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/durachman.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/durachman.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/durachman.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/durachman.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=durachman.wordpress.com&blog=2465682&post=137&subd=durachman&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/situs-gunung-nagara/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/durahman-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">webmaster</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islamisasi Dinasti Prabu Siliwangi</title>
		<link>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/islamisasi-dinasti-prabu-siliwangi/</link>
		<comments>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/islamisasi-dinasti-prabu-siliwangi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 06:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cirebon dan Sekitarnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/islamisasi-dinasti-prabu-siliwangi/</guid>
		<description><![CDATA[Islamisasi Dinasti Prabu Siliwangi
Oleh AHMAD MANSUR SURYANEGARA
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1104/22/teropong/lainnya2.htm
DINASTI Sang Prabu Siliwangi pada abad ke-15,
menjadikan Islam sebagai agamanya secara aman dan
damai. Diawali dengan sebab adanya pernikahan kedua
Sang Prabu Siliwangi dengan Subang Larang putri Ki
Gedeng Tapa, Syah Bandar Cirebon. Subang Larang adalah
santri Syekh Kuro atau Syekh Hasanuddin dengan
pesantrennya di Karawang. Dinasti Sang Prabu Siliwangi
dari pernikahannya dengan Subang Larang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Islamisasi Dinasti Prabu Siliwangi<br />
Oleh AHMAD MANSUR SURYANEGARA<br />
<a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1104/22/teropong/lainnya2.htm">http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1104/22/teropong/lainnya2.htm</a></p>
<p>DINASTI Sang Prabu Siliwangi pada abad ke-15,<br />
menjadikan Islam sebagai agamanya secara aman dan<br />
damai. Diawali dengan sebab adanya pernikahan kedua<br />
Sang Prabu Siliwangi dengan Subang Larang putri Ki<br />
Gedeng Tapa, Syah Bandar Cirebon. Subang Larang adalah<br />
santri Syekh Kuro atau Syekh Hasanuddin dengan<br />
pesantrennya di Karawang. Dinasti Sang Prabu Siliwangi<br />
dari pernikahannya dengan Subang Larang, terlahirlah<br />
tiga orang putra putri. Pertama, Pangeran<br />
Walangsungsang, kedua, Nyai Lara Santang dan ketiga<br />
Raja Sangara. Ketiga-tiganya masuk Islam.<span id="more-136"></span></p>
<p>Pesantren Syekh Kuro</p>
<p>Syekh Kuro yang dikenal pula dengan nama Syekh<br />
Hasanuddin, memegang peranan penting dalam masuknya<br />
pengaruh ajaran Islam ke keluarga Sang Prabu<br />
Siliwangi. Persahabatan Ki Gedeng Tapa dengan Syekh<br />
Kuro, menjadikan putrinya, Subang Larang masantren di<br />
Pesantren Syekh Kuro. Adapun kedudukan Ki Gedeng Tapa<br />
adalah sebagai Syahbandar di Cirebon. Menggantikan Ki<br />
Gedeng Sindangkasih setelah wafat. Ki Gedeng Tapa<br />
dikenal pula dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati.</p>
<p>Dalam Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari-CPCN karya<br />
Pangeran Arya Cirebon yang ditulis (1720) atas dasar<br />
Negarakerta Bumi, menuturkan bahwa Ki Gedeng<br />
Sinangkasih memiliki kewenangan yang besar. Tidak<br />
hanya sebagai Syahbandar di Cirebon semata. Ternyata<br />
juga memiliki kewenangan mengangkat menantunya, Raden<br />
Pamanah Rasa sebagai Maharaja Pakwan Pajajaran dengan<br />
gelar Sang Prabu Siliwangi.</p>
<p>Adapun istri pertama Sang Prabu Siliwangi adalah Nyi<br />
Ambet Kasih putri kandung Ki Gedeng Sindangkasih.<br />
Istri kedua, Subang Larang putri Ki Gedeng Tapa.<br />
Isteri ketiga, Nyai Aciputih Putri dari Ki Dampu<br />
Awang.</p>
<p>Dari peristiwa pergantian kedudukan di atas ini,<br />
antara Ki Gedeng Tapa dan Sang Prabu Siliwangi<br />
memiliki kesamaan pewarisan. Keduanya memperoleh<br />
kekuasaan berasal dari Ki Gedeng Sindangkasih setelah<br />
wafat. Hubungan antara keduanya dikuatkan dengan<br />
pertalian pernikahan. Sang Prabu Siliwangi<br />
mempersunting putri Ki Gedeng Tapa yakni Subang<br />
Larang. Dengan demikian Sang Prabu Siliwangi adalah<br />
menantu Ki Gedeng Tapa.</p>
<p>Pernikahan di atas ini, mempunyai pengaruh yang besar<br />
terhadap kekuasaan politik yang sedang diemban oleh<br />
Sang Prabu Siliwangi. Tidaklah mungkin kelancaran<br />
kehidupan Kerajaan Hindu Pajajaran, tanpa kerja sama<br />
ekonomi dengan Syahbandar Cirebon, Ki Gedeng Tapa.<br />
Begitu pula sebaliknya, Ki Gedeng Tapa tidak mungkin<br />
aman kekuasaannya sebagai Syahbandar, bila tanpa<br />
perlindungan politik dari Sang Prabu Siliwangi. Guna<br />
memperkuat power of relation antar keduanya, maka<br />
diikat dengan tali pernikahan.</p>
<p>Pengaruh eksternal</p>
<p>Pengaruh islamisasi terhadap Dinasti Sang Prabu<br />
Siliwangi tidak dapat dilepaskan hubungan dengan<br />
pengaruh Islam di luar negeri. Di Timur Tengah,<br />
Fatimiyah (1171) dan Abbasiyah (1258) memang sudah<br />
tiada digantikan oleh kekuasaan Mamluk di Mesir dan<br />
Mongol di Baghdad. Namun pada kelanjutan Dinasti Khu<br />
Bilai Khan, Mongol pun memeluk Islam. Kemudian<br />
membangun kekaisaran Mongol Islam di India.</p>
<p>Perkembangan kekuasaan politik Islam di Timur Tengah<br />
di bawah Turki semakin berjaya. Konstantinopel dapat<br />
dikuasainya (1453). Di Cina Dinasti Ming (1363-1644)<br />
memberikan kesempatan orang-orang Islam untuk duduk<br />
dalam pemerintahan. Antara lain Laksamana Muslim Cheng<br />
Ho ditugaskan oleh Kaisar Yung Lo memimpin misi<br />
muhibah ke-36 negara. Antara lain ke Timur Tengah dan<br />
Nusantara (1405-1430). Membawa pasukan muslim 27.000<br />
dengan 62 kapal. Demikian penuturan Lee Khoon Choy,<br />
dalam Indonesia Between Myth and Reality. Di Cirebon<br />
Laksmana Cheng Ho membangun mercusuar. Di Semarang<br />
mendirikan Kelenteng Sam Po Kong.</p>
<p>Misi muhibah Laksamana Cheng Ho tidak melakukan<br />
perampokan atau penjajahan. Bahkan memberikan bantuan<br />
membangun sesuatu yang diperlukan oleh wilayah yang<br />
didatanginya. Seperti Cirebon dengan mercusuarnya.<br />
Oleh karena itu, kedatangan Laksamana Cheng Ho<br />
disambut gembira oleh Ki Gedeng Tapa sebagai<br />
Syahbandar Cirebon.</p>
<p>Perubahan tatanan dunia politik dan ekonomi yang<br />
dipengaruhi oleh Islam seperti di atas, berdampak<br />
besar dalam keluarga Sang Prabu Siliwangi. Terutama<br />
sekali pengaruhnya terhadap Ki Gedeng Tapa sebagai<br />
Syahbandar di Cirebon.</p>
<p>Karena sangat banyak kapal niaga muslim yang berlabuh<br />
di pelabuhan Cirebon, kapal niaga dari India Islam,<br />
Timur Tengah Islam dan Cina Islam. Pembangunan<br />
mercusuar di pelabuhan Cirebon memungkinkan tumbuhnya<br />
rasa simpati Ki Gedeng Tapa sebagai Syahbandar Cirebon<br />
terhadap Islam. Dapat dilihat dari putrinya Subang<br />
Larang, sebelum dinikahkan dengan Sang Prabu<br />
Siliwangi, dipesantrenkan terlebih dahulu ke Syekh<br />
Kuro. Di bawah kondisi keluarga dan pengaruh eksternal<br />
yang demikian ini, putra putri Sang Prabu Siliwangi<br />
mencoba lebih mendalami Islam dengan berguru ke Syekh<br />
Datuk Kahfi dan Naik Haji.</p>
<p>Gunung dan guru</p>
<p>Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari kelanjutannya<br />
menuturkan, setiap dalam upaya pencarian guru pasti<br />
tempat tinggalnya ada di Gunung. Tampaknya sudah<br />
menjadi rumus, para Guru Besar Agama atau Nabi selalu<br />
berada di Gunung. Dapat kita baca Rasulullah saw juga<br />
menerima wahyu Al Quran dan diangkat sebagai Rasul di<br />
Jabal Nur. Jauh sebelumnya, Nabi Adam as dijumpakan<br />
kembali dengan Siti Hawa ra, di Jabal Rahmah.</p>
<p>Tempat pendaratan Kapal Nuh as setelah banjir mereda<br />
di Jabal Hud. Pengangkatan Musa as sebagai Nabi di<br />
Jabal Tursina. Demikian pula Wali Sanga selalu terkait<br />
aktivitas dakwah atau ma kamnya dengan gunung. Tidak<br />
berbeda dengan kisah islamisasi putra putri Prabu<br />
Siliwangi erat hubungannya dengan guru-guru yang<br />
berada di gunung.</p>
<p>Subang Larang tidak mungkin mengajari Islam putra<br />
putrinya sendiri di istana Pakuan Pajajaran. Diizinkan<br />
putra pertamanya Pangeran Walangsungsang untuk berguru<br />
ke Syekh Datuk Kahfi di Gunung Amparan Jati. Di sini<br />
Pangeran Walangsungsang diberi nama Samadullah.</p>
<p>Walaupun demikian Pangeran Walangsungsang harus pula<br />
berguru kedua guru Sanghyang Naga di Gunung Ciangkap<br />
dan Nagagini di Gunung Cangak. Di sini Pangeran<br />
Walangsungsang diberikan gelar Kamadullah. Di Gunung<br />
Cangak ini pula berhasil mengalahkan Raja Bango.<br />
Pangeran Walangsungsang diberi gelar baru lagi Raden<br />
Kuncung. Dari data yang demikian, penambahan atau<br />
pergantian nama memiliki pengertian sebagai ijazah<br />
lulus dan wisuda dari studi di suatu perguruan.</p>
<p>Dengan cara yang sama Lara Santang harus pula mengaji<br />
ke Syekh Datuk Kahfi Cirebon. Dalam Naskah Babad<br />
Cirebon dikisahkan Lara Santang sebelum sampai ke<br />
Cirebon, berguru terlebih dahulu ke Nyai Ajar Sekati<br />
di Gunung Tangkuban Perahu. Kemudian menyusul berguru<br />
ke Ajar Cilawung di Gunung Cilawung. Di sini setelah<br />
lulus diberi nama Nyai Eling.</p>
<p>Naik haji</p>
<p>Atas anjuran Syekh Datuk Kahfi agar Pangeran<br />
Walangsungsang dan Lara Santang Naik Haji. Ternyata<br />
dalam masa Ibadah Haji di Makkah, Lara Santang<br />
dipersunting oleh Maolana Sultan Mahmud disebut pula<br />
Syarif Abdullah dari Mesir. Lara Santang setelah haji<br />
dikenal dengan nama Syarif Mudaim. Dari pernikahannya<br />
dengan Syarif Abdullah, lahir putranya, Syarif<br />
Hidayatullah pada 12 Mualid 1448 dikenal pula setelah<br />
wafat dengan nama Sunan Gunung Jati. Dan putra kedua<br />
adalah Syarif Nurullah.</p>
<p>Walangsungsang setelah haji, dikenal dengan nama Haji<br />
Abdullah Iman. Karena sebagai Kuwu di Pakungwati,<br />
dikenal dengan nama Cakrabuana. Prestasi Cakrabuana<br />
yang demikian menarik perhatian Sang Prabu Siliwangi,<br />
diberi gelar Sri Mangana. Pengakuan Sang Prabu<br />
Siliwangi yang demikian ini, menjadikan adik<br />
Walangsungsang atau Cakrabuana, yakni Raja Sangara<br />
masuk Islam dan naik haji kemudian berubah nama<br />
menjadi Haji Mansur.</p>
<p>Untuk lebih lengkapnya kisah islamisasi Dinasti Sang<br />
Prabu Siliwangi, dapat dibaca pada Dr. H. Dadan Wildan<br />
M.Hum, Sunan Gunung Jati Antara Fiksi dan Fakta.</p>
<p>Silsilah Prabu Siliwangi</p>
<p>Kembali ke masalah pokok artikel saya di atas ini.<br />
Suatu artikel yang saya angkat dari karya Dr. H. Dadan<br />
Wildan M.Hum. Bagi saya sejarah Prabu Siliwangi<br />
merupakan belukar yang sukar saya pahami. Dari karya<br />
Dr. H. Dadan Wildan M.Hum ada bagian sangat menarik,<br />
Carita Purwaka Caruban Nagari-CPCN karya Pangeran Arya<br />
Cerbon 1720. Diangkat dari terjemahannya karya<br />
Pangeran Sulendraningrat (1972), dan Drs. Atja (1986).</p>
<p>Prabu Siliwangi seorang raja besar dari Pakuan<br />
Pajajaran. Putra dari Prabu Anggalarang dari dinasti<br />
Galuh yang berkuasa di Surawisesa atau Kraton Galuh.<br />
Pada masa mudanya dikenal dengan nama Raden Pamanah<br />
Rasa. Diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru<br />
pelabuhan Muara Jati.</p>
<p>Istri pertama adalah Nyi Ambetkasih, putri dari Ki<br />
Gedengkasih. Istri kedua, Nyai Subang Larang putri<br />
dari Ki Gedeng Tapa. Ketiga, Aciputih Putri dari Ki<br />
Dampu Awang.</p>
<p>Selain itu, CPCN juga menuturkan silsilah Prabu<br />
Siliwangi sebagai ke turunan ke-12 dari Maharaja<br />
Adimulia. Selanjutnya bila diurut dari bawah ke atas,<br />
Prabu Siliwangi (12) adalah putra dari (11) Prabu<br />
Anggalarang, (10) Prabu Mundingkati (9) Prabu<br />
Banyakwangi (8) Banyaklarang (7) Prabu Susuk tunggal<br />
(6) Prabu Wastukencana (5) Prabu Linggawesi (4) Prabu<br />
Linggahiyang (3) Sri Ratu Purbasari (2) Prabu<br />
Ciungwanara (1) Maharaja Adimulia. Sudah menjadi<br />
tradisi penulisan silsilah, hanya menuliskan urutan<br />
nama. Tidak dituturkan peristiwa apa yang dihadapi<br />
pada zaman pelaku sejarah yang menyangdang nama-nama<br />
tersebut. Kadang-kadang juga disebut makamnya di mana.</p>
<p>Pengenalan Islam</p>
<p>Adapun Dinasti Prabu Siliwangi yang masuk Islam adalah<br />
dari garis ibu, Subang Larang. Dapat dipastikan dari<br />
Subang Larang ajaran Islam mulai dikenal oleh<br />
putra-putrinya. Walaupun Subang Larang sebagai putri<br />
Ki Gedeng Taparaja Singapora bawahan dari Kerajaan<br />
Pajajaran. Namun Subang Larang adalah murid dari Syekh<br />
Hasanuddin atau dikenal pula sebagai Syekh Kuro.</p>
<p>Adapun putra pertama adalah Walangsungsang. Kedua,<br />
putri Nyai Larang Santang. Ketiga, Raja Sangara. Tidak<br />
mungkin Subang Larang dengan bebas membelajarkan<br />
ajaran Islam secara terbuka dalam lingkungan istana.<br />
Oleh karena itu, Walangsungsang, mempelopori<br />
meninggalkan istana dan berguru kepada Syekh Datuk<br />
Kahfi di Gunung Amparan Jati di Cirebon. Syekh Datuk<br />
Kahfi dikenal pula dengan nama Syekh Nuruljati.</p>
<p>Dalam pengajian dengan Syekh Nurjati, diwisuda dengan<br />
ditandai pergantian nama menjadi Ki Somadullah.<br />
Kemudian membuka pedukuhan baru, Kebon Pesisir.<br />
Kelanjutannya menikah dengan Nyai Kencana Larang putri<br />
Ki Gedeng Alang Alang. Dari sini memperoleh gelar baru<br />
Ki Wirabumi.***</p>
<p>-Penulis adalah ahli sejarah.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/durachman.wordpress.com/136/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/durachman.wordpress.com/136/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/durachman.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/durachman.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/durachman.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/durachman.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/durachman.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/durachman.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/durachman.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/durachman.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/durachman.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/durachman.wordpress.com/136/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=durachman.wordpress.com&blog=2465682&post=136&subd=durachman&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/islamisasi-dinasti-prabu-siliwangi/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/durahman-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">webmaster</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cirebon, sejarah singkat</title>
		<link>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/cirebon-sejarah-singkat/</link>
		<comments>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/cirebon-sejarah-singkat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 05:58:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cirebon dan Sekitarnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://durachman.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[From: &#8220;Lukman Hakim&#8221; &#60;Lukman.Hakim@sxxx.co.id&#62;Subject:  sajarah Cirebon Date: Thursday, May 19, 2005 5:39
Mengawali cerita sejarah ini sebagai Purwadaksina, Purwa Kawitan Daksina Kawekasan, tersebutlah kerajaan besar di kawasan barat pulau Jawa PAKUAN PAJAJARAN yang Gemah Ripah Repeh Rapih Loh Jinawi Subur Kang Sarwa Tinandur Murah Kang Sarwa Tinuku, Kaloka Murah Sandang Pangan Lan Aman Tentrem Kawontenanipun. Dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>From: &#8220;Lukman Hakim&#8221; &lt;<a href="mailto:Lukman.Hakim@saipem.co.id">Lukman.Hakim@sxxx.co.id</a>&gt;Subject:  sajarah Cirebon Date: Thursday, May 19, 2005 5:39</p>
<p>Mengawali cerita sejarah ini sebagai Purwadaksina, Purwa Kawitan Daksina Kawekasan, tersebutlah kerajaan besar di kawasan barat pulau Jawa PAKUAN PAJAJARAN yang Gemah Ripah Repeh Rapih Loh Jinawi Subur Kang Sarwa Tinandur Murah Kang Sarwa Tinuku, Kaloka Murah Sandang Pangan Lan Aman Tentrem Kawontenanipun. Dengan Rajanya JAYA DEWATA bergelar SRI BADUGA MAHARAJA PRABU SILIWANGI Raja Agung, Punjuling Papak, Ugi Sakti Madraguna, Teguh Totosane Bojona Kulit Mboten Tedas Tapak Paluneng Pande, Dihormati, disanjung Puja rakyatnya dan disegani oleh lawan-lawannya.Raja Jaya Dewata menikah dengan Nyai Subang Larang dikarunia 2 (dua) orang putra dan seorang putri, Pangeran Walangsungsang yang lahir pertama tahun 1423 Masehi, kedua Nyai Lara Santang lahir tahun 1426 Masehi. Sedangkan Putra yang ketiga Raja Sengara lahir tahun 1428 Masehi. Pada tahun 1442 Masehi Pangeran Walangsungsang menikah dengan Nyai Endang Geulis Putri Ki Gedheng Danu Warsih dari Pertapaan Gunung Mara Api. Mereka singgah di beberapa petapaan antara lain petapaan Ciangkup di desa Panongan (Sedong &lt;<a href="http://www.kabcirebon.go.id/kecamatan.ku?di=sedong">http://www.kabcirebon.go.id/kecamatan.ku?di=sedong</a>&gt; ), Petapaan Gunung Kumbang di daerah Tegal dan Petapaan Gunung Cangak di desa Mundu &lt;<a href="http://www.kabcirebon.go.id/kecamatan.ku?di=mundu">http://www.kabcirebon.go.id/kecamatan.ku?di=mundu</a>&gt; Mesigit, yang terakhir sampe ke Gunung Amparan Jati dan disanalah bertemu dengan Syekh Datuk Kahfi yang berasal dari kerajaan Parsi. Ia adalah seorang Guru Agama Islam yang luhur ilmu dan budi pekertinya. Pangeran Walangsungsang beserta adiknya Nyai Lara Santang dan istrinya Nyai Endang Geulis berguru Agama Islam kepada Syekh Nur Jati dan menetap bersama Ki Gedheng Danusela adik Ki Gedheng Danuwarsih. Oleh Syekh Nur Jati, Pangeran Walangsungsang diberi nama Somadullah dan diminta untuk membuka hutan di pinggir Pantai Sebelah Tenggara Gunung Jati (Lemahwungkuk sekarang). Maka sejak itu berdirilah Dukuh Tegal Alang-Alang yang kemudian diberi nama Desa Caruban (Campuran) yang semakin lama menjadi ramai dikunjungi dan dihuni oleh berbagai suku bangsa untuk berdagang, bertani dan mencari ikan di laut.<br />
Danusela (Ki Gedheng Alang-Alang) oleh masyarakat dipilih sebagai Kuwu yang pertama dan setelah meninggal pada tahun 1447 Masehi digantikan oleh Pangeran Walangsungsang sebagai Kuwu Carbon yang kedua bergelar Pangeran Cakrabuana. Atas petunjuk Syekh Nur Jati, Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah.</p>
<p>Pangeran Walangsungsang mendapat gelar Haji Abdullah Iman dan adiknya Nyai Lara Santang mendapat gelar Hajah Sarifah Mudaim, kemudian menikah dengan seorang Raja Mesir bernama Syarif Abullah. Dari hasil perkawinannya dikaruniai 2 (dua) orang putra, yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Sekembalinya dari Mekah, Pangeran Cakrabuana mendirikan Tajug dan Rumah Besar yang diberi nama Jelagrahan, yang kemudian dikembangkan menjadi Keraton Pakungwati (Keraton Kasepuhan sekarang) sebagai tempat kediaman bersama Putri Kinasih Nyai Pakungwati. Stelah Kakek Pangeran Cakrabuana Jumajan Jati Wafat, maka Keratuan di Singapura tidak dilanjutkan (Singapura terletak + 14 Km sebelah Utara Pesarean Sunan Gunung Jati) tetapi harta peninggalannya digunakan untuk bangunan Keraton Pakungwati dan juga membentuk prajurit dengan nama Dalem Agung Nyi Mas Pakungwati. Prabu Siliwangi melalui utusannya, Tumenggung Jagabaya dan Raja Sengara (adik Pangeran Walangsungsang), mengakat Pangeran Carkrabuana menjadi Tumenggung dengan Gelar Sri Mangana.</p>
<p>Pada Tahun 1470 Masehi Syarif Hiyatullah setelah berguru di Mekah, Bagdad, Campa dan Samudra Pasai, datang ke Pulau Jawa, mula-mula tiba di Banten kemudian Jawa Timur dan mendapat kesempatan untuk bermusyawarah dengan para wali yang dipimpin oleh Sunan Ampel. Musyawarah tersebut menghasilkansuatu lembaga yang bergerak dalam penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa dengan nama Wali Sanga.</p>
<p>Sebagai anggota dari lembaga tersebut, Syarif Hidayatullah datang ke Carbon untuk menemui Uwaknya, Tumenggung Sri Mangana (Pangeran Walangsungsang) untuk mengajarkan Agama Islam di daerah Carbon dan sekitarnya, maka didirikanlah sebuah padepokan yang disebut pekikiran (di Gunung Sembung sekarang)</p>
<p>Setelah Suna Ampel wafat tahun 1478 Masehi, maka dalam musyawarah Wali Sanga di Tuban, Syarif Hidayatullah ditunjuk untuk menggantikan pimpinan Wali Sanga. Akhirnya pusat kegiatan Wali Sanga dipindahkan dari Tuban ke Gunung Sembung di Carbon yang kemudian disebut puser bumi sebagai pusat kegiatan keagamaan, sedangkan sebagai pusat pemerintahan Kesulatan Cirebon berkedudukan di Keraton Pakungwati dengan sebutan GERAGE. Pada Tahun 1479 Masehi, Syarif Hidayatullah yang lebih kondang dengan sebutan Pangeran Sunan Gunung Jati menikah dengan Nyi Mas Pakungwati Putri Pangeran Cakrabuana dari Nyai Mas Endang Geulis. Sejak saat itu Pangeran Syarif Hidayatullah dinobatkan sebagai Sultan Carbon I dan menetap di Keraton Pakungwati.</p>
<p>Sebagaimana lazimnya yang selalu dilakukan oleh Pangeran Cakrabuana mengirim upeti ke Pakuan Pajajaran, maka pada tahun 1482 Masehi setelah Syarif Hidayatullah diangkat menajdi Sulatan Carbon membuat maklumat kepada Raja Pakuan Pajajaran PRABU SILIWANGI untuk tidak mengirim upeti lagi karena Kesultanan Cirebon sudah menjadi Negara yang Merdeka. Selain hal tersebut Pangeran Syarif Hidayatullah melalui lembaga Wali Sanga rela berulangkali memohon Raja Pajajaran untuk berkenan memeluk Agama Islam tetapi tidak berhasil. Itulah penyebab yang utama mengapa Pangeran Syarif Hidayatullah menyatakan Cirebon sebagai Negara Merdeka lepas dari kekuasaan Pakuan Pajajaran.</p>
<p>Peristiwa merdekanya Cirebon keluar dari kekuasaan Pajajaran tersebut, dicatat dalam sejarah tanggal Dwa Dasi Sukla Pakca Cetra Masa Sahasra Patangatus Papat Ikang Sakakala, bertepatan dengan 12 Shafar 887 Hijiriah atau 2 April 1482 Masehi yang sekarang diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Cirebon.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/durachman.wordpress.com/135/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/durachman.wordpress.com/135/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/durachman.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/durachman.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/durachman.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/durachman.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/durachman.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/durachman.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/durachman.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/durachman.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/durachman.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/durachman.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=durachman.wordpress.com&blog=2465682&post=135&subd=durachman&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/cirebon-sejarah-singkat/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/durahman-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">webmaster</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MISTERI RAWA ONOM</title>
		<link>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/misteri-rawa-onom/</link>
		<comments>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/misteri-rawa-onom/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 05:45:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cirebon dan Sekitarnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://durachman.wordpress.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca sekalian. Tulisan ini merupakan hasil copy paste. Tapi mohon maaf aku lupa mempastekan sumbernya. Jadi kalau ada penulisnya yg keberatan tulisan ini ada di blog aku silahkan kontak aku biar tulisannya aku turunkan.
==begin of copy paste===
MISTERI RAWA ONOM
ONOM adalah sebangsa makhluk halus,
berpusat di areal sebuah rawa seluas 947 ha, Rawa Onom
namanya.
Orang tak boleh gegabah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="left">Pembaca sekalian. Tulisan ini merupakan hasil copy paste. Tapi mohon maaf aku lupa mempastekan sumbernya. Jadi kalau ada penulisnya yg keberatan tulisan ini ada di blog aku silahkan kontak aku biar tulisannya aku turunkan.</p>
<p align="left">==begin of copy paste===</p>
<p align="left">MISTERI RAWA ONOM</p>
<p align="left">ONOM adalah sebangsa makhluk halus,</p>
<p><span style="font-size:85%;">berpusat di areal sebuah rawa seluas 947 ha, Rawa Onom<br />
namanya.</p>
<p>Orang tak boleh gegabah membicarakannya sebab selalu<br />
saja ada akibatnya. Begitu</p>
<p>kata penduduk Banjar, Ciamis.</span><br />
<span style="font-size:85%;">ONOM itu sebangsa makhluk halus. Orang<br />
Banjar, Kabupaten Ciamis,</p>
<p>menyebutnya sebagai siluman.</p>
<p>Siluman punya arti tersendiri untuk sebutan kelompok<br />
makhluk halus. Kata Sanusi (50) penduduk Purwaharja,<br />
siluman dikenakan kepada makhluk halus yang dulunya<br />
berujud manusia biasa. Namun karena &#8220;Ngahiang&#8221;<br />
(menghilang), dan menjadi makhluk halus, maka disebutnya<br />
sebagai siluman.</p>
<p>Kata Sanusi lagi, sampai dengan tahun 1942 wilayah Kecamatan<br />
Purwaharja ini dikenal sebagai Kampung Siluman. Mengapa<br />
disebut begitu, sebab orang mengganggap bahwa kampung<br />
itu masuk areal atau wilayah kekuasaan bangsa onom.</p>
<p>Bangsa onom konon punya kerajaan, Pulo Majeti namanya.<br />
Hingga kini, wilayah bernama Pulo Majeti masih tetap<br />
ada dan hingga kini pula, banyak diziarahi orang yang<br />
datang dari mana-mana, hingga dari luar Pulau Jawa.</p>
<p>&#8220;Bagi mata biasa, Pulo Majeti hanya berupa gugusan<br />
pulau kecil di tengah rawa bernama Rawa Onom, seluas<br />
947 ha. Namun bagi orang-orang tertentu, itu adalah<br />
sebuah kerajaan,&#8221; tutur Mamun (50)masih penduduk<br />
sekitar situ.</p>
<p>Jurukunci Pulo Majeti, Bapak Omod mengabarkan bahwa<br />
yang berkuasa di Kerajaan Pulo Majeti adalah Prabu Selang<br />
Kuning. Istrinya bernama Ratu Gandawati. Dia punya aparat,<br />
yaitu Patih Kalintu dan abdi dalemnya adalah Mas Bugel,Ki<br />
Bedegel,Ki Rimpung dan Mas Jemblung. Setiap saat mereka<br />
berada di sana dan setiap saat mereka melayani permintaan<br />
para peziarah.</p>
<p>Sungguh menakjubkan. Sekarang abad 21 di mana dunia<br />
tengah menghadapi era teknologi canggih. Namun demikian,<br />
kepercayaan akan dunia lain masih tetap dipertahankan.<br />
Contohnya kekuatan Rawa Onom dan Pulo Majeti ini.</p>
<p>Maka banyaklah orang berziarah dan bertapa di sana untuk<br />
minta berkah, seperti ingin diluluskan segala cita-citanya,<br />
ingin dapat jodoh, dapat kerjaan, sampai kepada ingin<br />
anak lulus ujian.</p>
<p>&#8220;Tapi berziarah ke Pulo Majeti segalanya harus<br />
serius dan harus dilakukan dengan tertib dan sopan.<br />
Kalau ada tindak kesombongan diperlihatkan di sini,<br />
alamat akan ada risikonya!&#8221; tutur juru kunci.</p>
<p>Demikian pula yang diakui oleh beberapa penziarah. Pernah<br />
ada yang datang namun tak percaya atas keberadaan hal-hal<br />
gaib Pulo Majeti. Maka mendadak sontak keanehan diperlihatkan.<br />
Pernah seseorang terkencing-kencing lari sebab katanya<br />
ada binatang aneh mengejar-ngejar terus. Sementara peziarah<br />
lain hanya menatap</p>
<p>terbengong-bengong sebab apa yang ditakuti orang itu,<br />
malah tak terlihat oleh orang lain.</p>
<p>Suatu malam buta, tiba-tiba hujan turun dengan deras,<br />
disertai kilat menyambar-nyambar. Namun selang beberapa<br />
lama kemudian, hujan berhenti dan seluruh pakaian pengunjung<br />
mendadak kering seperti tak pernah terguyur air sebelumnya.</p>
<p></span><br />
<span style="font-size:85%;color:#ff0000;"><b>Dihormati penguasa</b></span><span style="font-size:85%;"></p>
<p>Kerajaan Bangsa Onom di Pulo Majeti yang dirajai oleh<br />
Prabu Selang Kuning ini, kono dihormati pula oleh aparat<br />
pemda Kabupaten Ciamis. Percaya atau tidak, beberapa<br />
waktu yang lalu, bila di pemda akan mengadakan perayaan<br />
apa saja, seperti HUT Kabupaten atau HUT-RI misalnya,<br />
maka dari berbagai kalangan yang diundang, bangsa onom<br />
pun diundang pula.</p>
<p>Sampai dengan dekade 1980-an bahkan pada acara-acara<br />
perayaan khusus, panitia pernah menyiapkan sebuah kuda<br />
yang sudah dihias.</p>
<p>Kuda itu dibawa karnaval dalam keadaan kosong, artinya<br />
tanpa penunggang. Namun aneh, kuda itu ngosngosan seperti<br />
membawa beban berat. Konon, sebenarnya kuda itu ditunggangi<br />
oleh bangsa onom.</p>
<p>Di lingkungan pendopo juga, suka disediakan sebuah kamar<br />
khusus buat &#8220;undangan khusus&#8221; ini. Di dalam<br />
kamar itu sudah dipersiapkan berbagai penganan dan juga<br />
pakaian baik pakaian untuk pria maupun untuk wanita.<br />
Kata orang tua pengatur tata-cara ini, bila ada hal-hal<br />
aneh, maka siapa pun jangan sekali-kali menggubrisnya.</p>
<p>Namun suatu kali ada seorang istri pejabat yang ngomongin<br />
seorang tamu. Katanya ada tamu perempuan, kerjanya makan<br />
melulu. Tak lama sesudah itu, bibir istri pejabat bengkak<br />
mendadak. Dan penyakit bengkak sembuh mendadak setelah<br />
orang tua dari panitia minta maaf atas kelancangan berbicara.</p>
<p>Namun seiring dengan perjalanan waktu, seiring pula<br />
dengan peningkatan wawasan keagamaan, upacara-upacara<br />
seperti ini sudah tak dilakukan di pendopo Kabupaten<br />
Ciamis.</span><br />
<span style="font-size:85%;"><b><span style="color:#ff0000;">Pemberontak</span></b></p>
<p>Prabu Selang Kuning, penguasa Kerajaan Pulo Majeti ini,<br />
dulunya manusia biasa juga. Dia adalah patih kepercayaan<br />
Kerajaan Galuh.</p>
<p>Oleh raja diperintah membangun wilayah baru di daerah<br />
Pulo Majeti. Patih lancang Kuning menerima perintah<br />
ini sebaik-baiknya sehingga di Pulo Majeti yang semula<br />
rawa, berubah menjadi istana hebat.</p>
<p>Namun Selang Kuning tak mau menyerahkan hasil karyanya<br />
kepada rajanya, melainkan dia mengangkat dirinya sendiri<br />
menjadi penguasa Kerajaan Pulo Majeti.</p>
<p>Untuk menghindarkan percekcokan dengan dengan Kerajaan<br />
Galuh, maka Prabu Selang Kuning mengajak seluruh rakyatnya<br />
pindah ke alam lain. Itulah bangsa onom.</span></p>
<p>==end of copy paste==</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/durachman.wordpress.com/134/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/durachman.wordpress.com/134/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/durachman.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/durachman.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/durachman.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/durachman.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/durachman.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/durachman.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/durachman.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/durachman.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/durachman.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/durachman.wordpress.com/134/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=durachman.wordpress.com&blog=2465682&post=134&subd=durachman&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/misteri-rawa-onom/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/durahman-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">webmaster</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>subtotal di sql</title>
		<link>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/subtotal-di-sql/</link>
		<comments>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/subtotal-di-sql/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 05:38:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Database]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/subtotal-di-sql/</guid>
		<description><![CDATA[Tikamari urang keur neangan rumus kumaha carana nyieun subtotal di
microsoft sql query. Cobaan nanyakeun ka &#8216;dukun-dukun&#8217; komputer di
milist tatangga euweuh nu mere jawaban nu muncekil. Nu mere jawabanmah
aya sih tapi pas cobaan diterapkeun di program hasilna kurang sampurna.
Tadinamah rek nanyakeun ka bos, bos teu asup. Keur liburan ahir taun.
Teuing liburan ka endi. Ahirnamah urang coba-coba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tikamari urang keur neangan rumus kumaha carana nyieun subtotal di<br />
microsoft sql query. Cobaan nanyakeun ka &#8216;dukun-dukun&#8217; komputer di<br />
milist tatangga euweuh nu mere jawaban nu muncekil. Nu mere jawabanmah<br />
aya sih tapi pas cobaan diterapkeun di program hasilna kurang sampurna.<br />
Tadinamah rek nanyakeun ka bos, bos teu asup. Keur liburan ahir taun.<br />
Teuing liburan ka endi. Ahirnamah urang coba-coba wae ku sorangan,<br />
berhasill!!.</p>
<p>Kieu carana;</p>
<p>select= eusian ku kolom nu rek di jieun subtotal, ku kolom nu angkana<br />
rek ditotal bari ditambahkeun fungsi &#8217;sum&#8217;. Mun perlu dibere kecapn nu<br />
engkena bakal jadi header. Kieu contona;</p>
<p>select inv_date, SUM(QTY_SALES*BASE_PRICE)bruto</p>
<p>Di teoheun &#8217;select&#8217; tambahkeun parentah-parentah nu sejena secara urut.<br />
Mun urutanana salah program baris error;</p>
<p>from sales_temp<br />
where bc=11 &#8212;&#8212;&#8212;-ieumah filter biasa.<br />
group by INV_DATE&#8212;&#8212;kolom nu rek digroup. Kolom inv_date<br />
order by inv_date&#8212;&#8212;&#8212;hasil grouping bakal diurutkeun dumasar kana<br />
inv_date<br />
***</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/durachman.wordpress.com/133/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/durachman.wordpress.com/133/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/durachman.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/durachman.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/durachman.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/durachman.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/durachman.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/durachman.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/durachman.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/durachman.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/durachman.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/durachman.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=durachman.wordpress.com&blog=2465682&post=133&subd=durachman&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/subtotal-di-sql/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/durahman-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">webmaster</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sinuhun Jati Kang Misuwur</title>
		<link>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/sinuhun-jati-kang-misuwur/</link>
		<comments>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/sinuhun-jati-kang-misuwur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 03:22:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cirebon dan Sekitarnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://durachman.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Sawijining dina Sinuhun Jati wis gilig manahe arep tindak ning negara Mesir perlu sowan ibue. Tetilike Sinuhun Jati mana iku ana rong maksud. Kang dhingin, piyambeke arep ngaturi ibue mugi kersa jumeneng ning Cerbon. Kapindo, Sinuhun Jati arep asrah tahta ning rayie kang aran Syarif Nurullah.
Rong maksud mau pancen wis dadi karep lan pengangen-angen piyambeke, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sawijining dina Sinuhun Jati wis gilig manahe arep tindak ning negara Mesir perlu sowan ibue. Tetilike Sinuhun Jati mana iku ana rong maksud. Kang dhingin, piyambeke arep ngaturi ibue mugi kersa jumeneng ning Cerbon. Kapindo, Sinuhun Jati arep asrah tahta ning rayie kang aran Syarif Nurullah.</p>
<p>Rong maksud mau pancen wis dadi karep lan pengangen-angen piyambeke, kang tansah dadi krentege kalbu. Piyambeke luwih mrenah urip ning tanah leluhure, tinimbang jumeneng nata ning negara Mesir anggenteni kalungguhan ramae.</p>
<p>Ning Cerbon piyambeke bisa damel karya agung, beberes lan mranatani masarakate kang tembe bae manjing agama Islam. Ning Mesir mung trima dadi raja, olih kesenengan urip lair tanpa kelawan makarya kanggo dunya akerat. Mengkonon kersae Sinuhun Jati.</p>
<p>Wis dadi kersae Allah SWT, pekarepan mau den trima kelawan becik dening ingkang ibu lan rayie. Nuli Syarif Nurullah jumeneng nata nggentos kalungguhan ingkang rama Syarif Abdullah Ibnu Maulana Sultan Makhmud Al Misri. Dene ingkang ibu, Hajjah Syarifah Mudaim kersa kaboyong, nuli jumeneng ning Giri Nur Saptarengga nganti tutup yuswa, katelah Nyi Mas Ratu Panatagama Pasambangan.</p>
<p>Semono uga Sinuhun nampi jejuluk akeh, antarae dadi Panetep Panatagama Islam sinarat Sunda. Jumeneng pimpinan Wali Sanga lan Wali Kutubing Jaman ning negara masyrik.</p>
<p>(Nukilan saking &#8220;Carub Kandha Carang Seket&#8221; Crita ke 36.672 Sudibjo ZH T.D. Sudjana, 1980)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/durachman.wordpress.com/132/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/durachman.wordpress.com/132/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/durachman.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/durachman.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/durachman.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/durachman.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/durachman.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/durachman.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/durachman.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/durachman.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/durachman.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/durachman.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=durachman.wordpress.com&blog=2465682&post=132&subd=durachman&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/sinuhun-jati-kang-misuwur/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/durahman-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">webmaster</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>linux was born</title>
		<link>http://durachman.wordpress.com/2008/02/03/linux-was-born/</link>
		<comments>http://durachman.wordpress.com/2008/02/03/linux-was-born/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 13:21:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Linux]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://durachman.wordpress.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Ini email dari Mas Linus. Sebuah langkah kecil yg ahirnya bisa membuat sejarah.
Newsgroup: comp.os.minix
Dari: torva&#8230;@klaava.Helsinki.FI (Linus Benedict Torvalds)
Tanggal: 25 Aug 91 20:57:08 GMT
Lokal: Sen 26 Agu 1991 03:57
Perihal: What would you like to see most in minix?
Hello everybody out there using minix -
I&#8217;m doing a (free) operating system (just a hobby, won&#8217;t be big and
professional [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ini email dari Mas Linus. Sebuah langkah kecil yg ahirnya bisa membuat sejarah.</p>
<p>Newsgroup: comp.os.minix<br />
Dari: torva&#8230;@klaava.Helsinki.FI (Linus Benedict Torvalds)<br />
Tanggal: 25 Aug 91 20:57:08 GMT<br />
Lokal: Sen 26 Agu 1991 03:57<br />
Perihal: What would you like to see most in minix?</p>
<p>Hello everybody out there using minix -</p>
<p>I&#8217;m doing a (free) operating system (just a hobby, won&#8217;t be big and<br />
professional like gnu) for 386(486) AT clones.  This has been brewing<br />
since april, and is starting to get ready.  I&#8217;d like any feedback on<br />
things people like/dislike in minix, as my OS resembles it somewhat<br />
(same physical layout of the file-system (due to practical reasons)<br />
among other things).</p>
<p>I&#8217;ve currently ported bash(1.08) and gcc(1.40), and things seem to work.<br />
This implies that I&#8217;ll get something practical within a few months, and<br />
I&#8217;d like to know what features most people would want.  Any suggestions<br />
are welcome, but I won&#8217;t promise I&#8217;ll implement them <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Linus (torva&#8230;@kruuna.helsinki.fi)</p>
<p>PS.  Yes - it&#8217;s free of any minix code, and it has a multi-threaded fs.<br />
It is NOT protable (uses 386 task switching etc), and it probably never<br />
will support anything other than AT-harddisks, as that&#8217;s all I have :-(.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/durachman.wordpress.com/131/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/durachman.wordpress.com/131/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/durachman.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/durachman.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/durachman.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/durachman.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/durachman.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/durachman.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/durachman.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/durachman.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/durachman.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/durachman.wordpress.com/131/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=durachman.wordpress.com&blog=2465682&post=131&subd=durachman&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://durachman.wordpress.com/2008/02/03/linux-was-born/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/durahman-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">webmaster</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>setup network card isa di ubuntu server</title>
		<link>http://durachman.wordpress.com/2008/02/01/setup-network-card-isa-di-ubuntu-server/</link>
		<comments>http://durachman.wordpress.com/2008/02/01/setup-network-card-isa-di-ubuntu-server/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 14:57:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://durachman.wordpress.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Kalau setup network card isa di ubuntu biasa yg ada gui-nya saya sudah bisa dari dulu (lihat tulisanku terdahulu). Tapi untuk setup di server yg mana tak ada gui-nya baru kali ini. Ini setelah aku dipaksa berfikir keras karena aku membutuhkan sebuah komputer backup server yg mana resourcesnya sangat minim sehingga hanya kuat diinstall linux [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kalau setup network card isa di ubuntu biasa yg ada gui-nya saya sudah bisa dari dulu (lihat tulisanku terdahulu). Tapi untuk setup di server yg mana tak ada gui-nya baru kali ini. Ini setelah aku dipaksa berfikir keras karena aku membutuhkan sebuah komputer backup server yg mana resourcesnya sangat minim sehingga hanya kuat diinstall linux dgn cli sajah. Pilihannya  ubuntu server.</p>
<p>Caranya begini;</p>
<ol>
<li>Pertama masukan perintah [modepreobe 3c509]. 3c509 adalah kode kartu jaringanku. Untuk merek lain bisa dicari di google.  Tak akan terjadi apa-apa. Normal.</li>
<li>Setelah itu edit file konfigurasi jaringan sehingga formatnya seperti pada buku ubuntu (sory lupa)</li>
<li>Jalankan perintah [ifconfig eth0 up] untuk &#8230;..</li>
</ol>
<p>(bersambung&#8230;.)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/durachman.wordpress.com/130/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/durachman.wordpress.com/130/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/durachman.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/durachman.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/durachman.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/durachman.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/durachman.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/durachman.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/durachman.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/durachman.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/durachman.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/durachman.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=durachman.wordpress.com&blog=2465682&post=130&subd=durachman&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://durachman.wordpress.com/2008/02/01/setup-network-card-isa-di-ubuntu-server/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/durahman-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">webmaster</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>install kubuntu 7.10</title>
		<link>http://durachman.wordpress.com/2008/01/31/install-kubuntu-710/</link>
		<comments>http://durachman.wordpress.com/2008/01/31/install-kubuntu-710/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 04:51:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://durachman.wordpress.com/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Termotivasi oleh speed kde yg begitu mengesankan dibanding ubutu (saat itu aku install blankon dan ditambahkan kde sebagai windows mgr-nya) aku jadi tertarik untuk install kde &#8216;beneran&#8217;. Yakni dengan menginstall kubuntu. So&#8230;show begin.
Pertama aku jalankan live cd secara default. Error. Gui gak mau muncul. AHirnya aku restart dan jalankan live cd pada &#8217;safe graphis mode&#8217;. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Termotivasi oleh speed kde yg begitu mengesankan dibanding ubutu (saat itu aku install blankon dan ditambahkan kde sebagai windows mgr-nya) aku jadi tertarik untuk install kde &#8216;beneran&#8217;. Yakni dengan menginstall kubuntu. So&#8230;show begin.</p>
<p>Pertama aku jalankan live cd secara default. Error. Gui gak mau muncul. AHirnya aku restart dan jalankan live cd pada &#8217;safe graphis mode&#8217;. Jalan. Hm&#8230;karena safe tampilannya juga save. Gak suka sih. Gak tajam. Tapi&#8230;aku punya ide. Install aja dulu. Setelah beres install aku bisa edit configurasi xwindows secara manual (lihat blog ku terdahulu). </p>
<p>Installpun dimulai. Tak lupa saat install aku copot kabel lan. Karena kalau tidak dia akan mencari update di internet. Instalasi berjalan sekitar 20 menit.</p>
<p>Beres install aku coba restart. Dan&#8230;guinya bener-bener pada &#8217;save grapik mode. AHirnya aku restart dan masuk ke recovery mode untuk edit xwindows. Dan berhasil. Sekarang kubuntu sudah jalan dengan bagus. Aku suka &#8217;speed&#8217;-nya.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/durachman.wordpress.com/129/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/durachman.wordpress.com/129/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/durachman.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/durachman.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/durachman.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/durachman.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/durachman.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/durachman.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/durachman.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/durachman.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/durachman.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/durachman.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=durachman.wordpress.com&blog=2465682&post=129&subd=durachman&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://durachman.wordpress.com/2008/01/31/install-kubuntu-710/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/durahman-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">webmaster</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>